Wanita mana yang tidak mendambakan kehadiran seorang malaikat kecil dalam hidupnya. Melahirkan, merawat, dan mendidik anak adalah cita-cita mulia yang menjadi impian setiap wanita. Ada rasa jengkel, sedih, dan iba berkecamuk dalam hati ketika mendengar seorang wanita menggugurkan kehamilannya (aborsi).
Segelintir info yang saya temukan, Indonesia dan Amerika adalah dua negara yang memiliki pandangan berbeda dalam menyikapi aborsi. Abortion is legal in America, 4 dari 10 wanita hamil di Amerika melakukan aborsi, bahkan aborsi dianggap pilihan dan hak setiap wanita. Dalih demokrasi dijadikan alibi untuk mengkonduksi apapun, termasuk membunuh janin. Hal ini masih menjadi kontroversi di setiap negara, sedangkan hukum di Indonesia melarang keras tindakan terkutuk ini karena dianggap tidak manusiawi serta tabu untuk budaya timur.
Sebagian besar kasus aborsi diakibatkan oleh kehamilan di luar nikah, dan pelaku terbanyak di Indonesia adalah wanita usia 20-24 tahun, dengan persentase sebesar 33%. (http://www.aborsi.org/pelaku.htm)
Banyak wanita keliru dalam mengambil sikap, mereka hanya berpikir pendek saat mengambil jalur pintas. Kehamilan di luar nikah dianggap aib, tujuan utama aborsi hanya untuk menutupi malu dan mempertahankan harga diri. Takut dikucilkan, dihina, atau pahitnya dibuang dari lingkungan. Namun, mengapa kata 'aib' itu tidak digaris bawahi sebelum mereka melakukan 'free sex'.
Berdasarkan catatan dari Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, ada 2,6 juta kasus aborsi tiap
tahun di Indonesia. Hanya 15 persen tergolong aborsi
legal dengan alasan medis, sisanya adalah kehamilan yang tak direncanakan.
Wanita berbondong-bondong berburu klinik gelap untuk mengenyahkan janin mereka dengan ongkos aborsi dari Rp 1,5 juta hingga Rp 6 juta per kasus.
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana mengancam pelaku praktek ini dengan hukuman 15 tahun penjara. Akan tetapi undang-undang ini dirasa tumpul karena secara tindakan tampak kurang tegas. Bahkan ada beberapa pihak aparat dan dokter menjalin hubungan khusus untuk menggenjot bisnis menggiurkan ini. Bayangkan saja, ongkos aborsi bisa bergerak hingga 200 Miliar per tahun.
Pelaku utama aborsi adalah wanita yang melakukan seks pra nikah. Seks memang hal lumrah bagi setiap makhluk hidup. Namun, sadarlah setiap tindakan pasti ada konsekuensi yang harus dihadapi, baik secara jiwa maupun mental, bahkan meroda hingga jalur hukum. Wanita, bukanlah seekor binatang, yang berperilaku tanpa akal, dan berbuat tanpa tanggung jawab. Pikirkan lebih jauh sebelum bertindak, jangan biarkan dirimu hancur karena nafsu dan ego. Wanita adalah sosok yang paling dirugikan dalam hal ini, kehancuran akan selalu menghantui diliputi rasa bersalah yang tak pernah bosan melekat. Sekejap mata kasus ini mampu dituntaskan di tangan dokter, tapi bagaimana di tangan Allah?
